Senin, 16 Desember 2013
Tulisan Baru
Bahagia
yang selama ini hanyalah angan belaka
walau telah bergelut menghantam ombak
dan mengupas semua kengerian jiwa
Bahagia
mungkin hanyalah sebuah kata yang indah
layaknya dongeng putri-putri jenaka
mengisi ruang khayalan
akan tetapi
kini aku tersadar
kata itu, angan itu
aku telah memilikinya
ya, aku bahagia
sosoknya menghujam padang kosong dalam kalbu
membuka mata yang terhimpit kehampaan
dan menjadi sebuah tulisan baru yang mengakhiri buku hidupku
Selasa, 01 Oktober 2013
takkan mati
kala bintang menyambut matahari
itulah detik aku pergi
menikmati derasnya aliran hati
yang menggenang hingga menyentuh permukaan inti
ingin melepas kenangan
namun kasih lebih kuat dari dendam
ingin menjadikannya obat
namun akal tak mau bertobat
detik berganti melewati hari
cinta pergi dan tak kembali
lalu aku sendiri menatap sepi
kemana harus kubawa jiwa ini
walau alam sadar tahu pasti
namun kalbu ingin menanti
hingga akhir waktu nanti
cinta ini takkan mati
norma
2013
Kamis, 26 September 2013
bahagia
bahagia itu sederhana
bahagia itu ketika semua masalah menerpa,
namun kita bisa mengambil sisi positif
dan tetap berjuang untuk melewatinya
dengan penuh rasa syukur..
bahagia itu hanya dapat terjadi jika kita selalu merasa yang terjadi adalah yang terbaik
ikhlas, pasti akan membawa kebahagiaan
bahagia, kita yang pastikan, tidak dapat diukur dari seberapa besar kekayaan, kecantikan, atau apapun juga..
dengan banyak bersyukur, ikhlas dan tetap berjuang melakukan yang terbaik adalah kunci dari kebahagiaan..
jadi, berbahagialah jika kita memiliki banyak hal sulit dalam hidup, artinya kita memiliki banyak hal untuk disyukuri dan diikhlaskan dalam hidup, yang akan berbuah kebahagiaan pada akhirnya. :)
bahagia itu ketika semua masalah menerpa,
namun kita bisa mengambil sisi positif
dan tetap berjuang untuk melewatinya
dengan penuh rasa syukur..
bahagia itu hanya dapat terjadi jika kita selalu merasa yang terjadi adalah yang terbaik
ikhlas, pasti akan membawa kebahagiaan
bahagia, kita yang pastikan, tidak dapat diukur dari seberapa besar kekayaan, kecantikan, atau apapun juga..
dengan banyak bersyukur, ikhlas dan tetap berjuang melakukan yang terbaik adalah kunci dari kebahagiaan..
jadi, berbahagialah jika kita memiliki banyak hal sulit dalam hidup, artinya kita memiliki banyak hal untuk disyukuri dan diikhlaskan dalam hidup, yang akan berbuah kebahagiaan pada akhirnya. :)
sinar
sinar
di kala hujan datang menerpa
membuat titik-titik hampa berjatuhan tanpa henti
hati ini berkelut dan terhenyak
menanti untuk utuh kembali
muncul setitik sinar
seakan memerangi hujan
yang menyeruak ditengah menghitamnya awan
dan menghabisi kekalutan seketika
datang dan melenyapkan semua
seolah badai selesai
waktu kembali berpihak
dan membantu melangkah dengan pasti
sinar itu
semangat itu
hanya dapat diwakili oleh sesosok mahkluk
yang berhasil membuka kembali hati yang pilu
norma
2013
di kala hujan datang menerpa
membuat titik-titik hampa berjatuhan tanpa henti
hati ini berkelut dan terhenyak
menanti untuk utuh kembali
muncul setitik sinar
seakan memerangi hujan
yang menyeruak ditengah menghitamnya awan
dan menghabisi kekalutan seketika
datang dan melenyapkan semua
seolah badai selesai
waktu kembali berpihak
dan membantu melangkah dengan pasti
sinar itu
semangat itu
hanya dapat diwakili oleh sesosok mahkluk
yang berhasil membuka kembali hati yang pilu
norma
2013
diary 26 september 2013
Sebenarnya ini tidak hanya terjadi hari ini saja, tapi sudah sekitar sebulan inilah.. aku merasa adanya secercah harapan yang muncul dibalik sebuah senyuman dari sosok yang aku tidak pernah terpikirkan sebelumnya..
hari-hariku bagaikan sebatang pohon kering yang disirami hujan lalu berbunga kembali.. terdengar berlebihan, tapi itu sungguh terjadi! :)
dia, datang dengan senyuman yang memikat, menanyakan hobi dan kesukaanku, pekerjaanku, aktor yang aku suka, dan juga statusku sekarang.. sebenarnya, tidak hanya dia yang datang mendekat, hanya entah mengapa aku hanya bisa semangat jika melihatnya. tidak ada yang khusus darinya, hanya caranya mendekat menarik perhatianku dan membuatku bahagia..dia adalah cahaya dalam kehidupanku yang kelam, ya cahayaku.
sayang, kami beda keyakinan, namun aku selalu berharap akan terjadi keajaiban, dimana kami bisa menjadi lebih dekat dan lebih lagi ke depannya. amin!
*aku selalu tersenyum dan menjadi bersemangat hanya dengan melihatnya, dia begitu mempesona hatiku! ;)
hari-hariku bagaikan sebatang pohon kering yang disirami hujan lalu berbunga kembali.. terdengar berlebihan, tapi itu sungguh terjadi! :)
dia, datang dengan senyuman yang memikat, menanyakan hobi dan kesukaanku, pekerjaanku, aktor yang aku suka, dan juga statusku sekarang.. sebenarnya, tidak hanya dia yang datang mendekat, hanya entah mengapa aku hanya bisa semangat jika melihatnya. tidak ada yang khusus darinya, hanya caranya mendekat menarik perhatianku dan membuatku bahagia..dia adalah cahaya dalam kehidupanku yang kelam, ya cahayaku.
sayang, kami beda keyakinan, namun aku selalu berharap akan terjadi keajaiban, dimana kami bisa menjadi lebih dekat dan lebih lagi ke depannya. amin!
*aku selalu tersenyum dan menjadi bersemangat hanya dengan melihatnya, dia begitu mempesona hatiku! ;)
salahku :'(
Saat itu dimulai, aku hanya dapat terpaku dan menyendiri di tengah badai dan hujan yang mewakili hati menyatakan perasaanku yang benar-benar kacau..
4 tahun yang lalu,
Hai semua, namaku Vinly, aku adalah anak tunggal dalam keluargaku, aku sebenarnya ingin sekali memiliki saudara..entah itu perempuan atau laki-laki, yang penting saudara!.. Tapi yahh..mungkin memang harus aku terima, saat ibuku melahirkanku, ibu menceritakan bahwa dokter berkata kondisi rahimnya memprihatinkan sehingga tidak boleh mengandung dan melahirkan lagi, walau aku kurang mengerti penyebabnya, tapi aku berusaha menerima hasilnya.
Well, kehidupan tanpa saudara sebenarnya benar-benar membosankan. Terang saja demikian, tidak ada teman curhat, ayah dan ibu sibuk untuk bekerja (katanya sih demi aku), dan biasanya aku hanya ditemani bibi yang membantu ibu dalam melakukan pekerjaan rumah tangga(RT) yang biasanya hanya mendengarkanku sambil melakukan pekerjaannya. Singkatnya, aku merasa hampa.
Dan berawal dari selesainya aku menerima pendidikan di bangku SMP, aku pun meminta untuk bersekolah di asrama, aku ingin memiliki saudara walaupun tidak kandung, aku ingin dapat merasakan kehangatan teman-teman sepanjang hari (tidak hanya di sekolah), dan tentunya memiliki pengalaman baru yang aku harap akan menyenangkan, namun aku tidak mengatakan hal yang sejujurnya kepada orang tuaku, aku hanya berkata ingin belajar menjadi seorang yang mandiri. Dan diluar dugaan, orang tuaku menyetujui usulku begitu saja, sedikit kekecewaan tersirat dalam benakku..namun aku berusaha menepis perasaanku yang kecewa dan menggantikannya menjadi perasaan yang bahagia menanti apa yang mungkin terjadi saat aku SMA nanti. Pasti akan menyenangkan, pikirku ceria.
Aku pun berangkat menuju tempat yang kuinginkan. Benar saja, ada banyak orang disana. Aku sekamar dengan 3 orang sekelasku. Kami pun berkenalan dan saling bercerita, semua terjalin begitu saja, kami pun bersahabat.
Aku, Vlouse, Nelsy dan Felinsha. Kami sekamar setiap hari berbagi akan pengalaman yang terjadi selama ini (yahh, apalagi yang dilakukan oleh kebanyakan gadis saat setiap malam bila bersama bukan? hahaha). Namun tetap saja kami kadang terbagi, aku lebih dekat dengan Sha (nama panggilan Felinsha), Vlouse dan Nelsy pun lebih akrab bersama. Akan tetapi kami tidak terbagi karena terpecah lohh..kami hanya sering curhat berpasangan, hihihi..
Kami sekamar hobby mendaki (sebenarnya awalnya aku sih tidak, tapi jadi suka deh karena mendengar asyiknya pengalaman teman-teman sekamarku saat mendaki), kami pun sering mendaki bukit di sebelah sekolah kami, bukit itu indah sekali.. Kami berjalan membawa perlengkapan makanan, obat-obatan dan tidak lupa handphone untuk merekam setiap peristiwa indah dan cantik yang kami temui (alias narsis, hehehe).
Saat kami memasuki tahun kedua di sekolah itu, kami memutuskan untuk tinggal sekamar lagi (pergantian kamar diadakan satu kali setahun di asrama agar semua berbaur), dan karena itu kami sempat mendapat sedikit masalah dengan ibu asrama kami, hihi.. Kami pun memohon padanya untuk mengizinkan kami tinggal sekamar lagi, dan akhirnya kami pun diizinkan. Oh iya, aku lupa, saat liburan pertamaku ke rumah, aku sama sekali tidak dihiraukan, sama saja seperti lalat beterbangan di atas sampah, tidak dianggap. Jadi aku setiap hari hanya berharap dapat kembali ke asrama, namun ketika hari terakhir aku berada di rumah, Ayahku berkata: "nak, bagaimana disana, apakah menyenangkan?" Aku pun menjawab: "tentu saja", kemudian pergi masuk ke kamar dan menyiapkan koperku sambil bernyanyi riang.
Kembali ke sekolah
Aku senang sekali, sehari di rumah serasa 1 abad, bayangkan saja liburan 2 minggu di rumahku aku jadi apa? haha.. Tapi yang terpenting aku ada disini sekarang, di sekolah, di kamarku yang penuh canda tawa. Vlouse dan Nelsy sibuk membuka barang yang mereka bawa dari rumah, masing-masing menceritakan pengalaman liburannya, aku terhenyak. Liburanku hanya kuisi dengan internetan dan membunuh waktu dengan membuka foto-fotoku dan teman-teman selama di sekolah. Mereka berkata bahwa mereka menemui teman-teman SMP mereka dan bernostalgia, Sha pun bercerita bahwa dia liburan dengan keluarganya ke Singapura. Aku bukannya tidak bisa keluar negri, uang jajanku saja cukup untuk ongkos pulang pergi keluar negri, hanya saja.. tidak ada orang yang dapat kuajak untuk pergi bersamaku.. see, uang bukanlah segalanya!..Teman-temanku pun bergantian bercerita hingga mereka membuyarkan lamunanku dan bertanya bagaimana liburanku. Aku hanya menjawab singkat dan berkata: "tidak lebih baik dari saat aku bersama kalian disini." Mereka pun mengerti bahwa aku kesepian, lalu tiba-tiba saja Vlouse mengajak kami semua untuk berjalan-jalan esok hari, "selagi masih awal pendaftaran, kita kan belum langsung masuk sekolah", katanya semangat. kami pun serempak menganggukkan kepala, tersenyum.
Saat keesokan harinya, kami pun sudah bersiap untuk melakukan traveling hari ini. "tema hari ini adalah kebahagiaan", seru Nelsy. Kami pun tertawa. Kami awali hari itu dengan makan diluar bukan di dining (tempat makan di asrama 3x sehari, dengan lauk hanya tahu, tempe, telur diiringi sayur dan buah. hahaha). Kami makan di pinggiran jalan namun tetap makanan yang sehat lohh (nasi uduk) hahaha.. sehat kan? ada sayurannya juga itu, hahaha.. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke taman dimana kami dapat melihat banyak bunga yang bermekaran dengan indahnya.. Oh iya, aku lupa menyebutkan ya, kami tidak hanya jalan berempat, Nelsy dan Vlouse mengajak teman pria mereka (bukan pacar, tapi para pria tersebut memang sedang mendekati Nelsy dan Vlouse) untuk berjalan-jalan bersama kami, sehingga aku dan Sha pun benar-benar hanya berdua menikmati kesendirian kami saat berjalan, hahaha..
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. aku dan teman-teman pun berlarian mencari tempat untuk berteduh. Vlouse mengomel, "kok bisa ya hujan di tengah teriknya mentari pagi yang begitu hangat?". Duh si Vlouse, bisa-bisanya ngomel dengan bahasa puitis, haha. "mungkin ini hujan buatan" seru Vilz (pria yang sedang dalam tahap pdkt dengan Vlouse). "ya, mungkin saja", seruku. "setahuku berdasarkan mitos, jika ada hujan di tengah panasnya sinar matahari itu menandakan adanya kepergian seseorang, yang menyebabkan langit pun berduka" sergah Nelsy (Nelsy memang sangat percaya pada mitos-mitos). "duh, siapa ya orang malang tersebut, kasihan keluarganya", timpal Sha. "hush, sudahlah, jangan membicarakan hal yang hanya berdasarkan mitos, belum bisa dipastikan kebenarannya sudah menyumpahi", seru Fridaltz (pria yang sedang pdkt dgn Nelsy namun lebih sering bertengkar dan menyanggah setiap perkataan Nelsy dibanding setuju, apa menggunakan metode seperti dalam drama korea yang selalu bertengkar pada awalnya kali ya? hihi). "huh, kamu selalu saja menyeramkan seperti namamu, Fridaltz yang sepertinya berasal dari friday : jumat, alias jumat malam, jumat kliwon, harinya para hantu keluar mencari mangsa", gidik Nelsy. Fridaltz pun dengan tenang menjawab: "aku memang terlahir di malam jumat kliwon, namun bukan berarti aku hantu, dan lagi tidak setiap jumat malam adalah jumat kliwon, itulah akibatnya bila terlalu percaya pada mitos, lagipula jika aku benar-benar adalah hantu seperti yang kamu inginkan, bukankah aku seharusnya memangsa kamu terlebih dahulu?". "hahahaha, sudahlah, sebaiknya kalian berhenti bertengkar, jika ada orang lain yang melihat kalian akan dikira pasangan suami-istri yang baru menikah dan bertengkar" seruku. Dan tentu saja perkataanku malah membuat aku mendapat tatapan tajam oleh keduanya. "oke oke, aku salah bicara, maaf" keluhku. Padahal kan mereka saling suka, bukannya bagus ya jika terlihat seperti pasangan sesungguhnya. Aku masih kurang mengerti mengapa mereka malah marah, atau sebenarnya hanya pura-pura marah demi gengsi ya..hahhaa, tak taulah, yang pasti hampir saja aku dimakan oleh Nelsy dan Fridaltz, hahahaha.. Kemudian Sha memintaku untuk menemaninya pergi mencari toilet sebentar, akhirnya aku dan Sha pun pergi berlari menuju gedung terdekat yang ada di sekitar taman itu untuk mencari toilet.
Itu adalah gedung perkuliahan, tempat dimana banyak orang menimba ilmu (ya iyalah, masa menimba air, itu mah sumur. haha). Saat menunggu Sha yang sedang masuk ke toilet, aku melihat seorang pria di pojok gedung sedang menatap sedih keluar jendela dan tanpa sadar aku mendekat ke arahnya. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan melihatku sedang menatapnya, aku buru-buru mengalihkan perhatianku ke arah lain, namun ia sebaliknya. Ia berjalan ke arahku dan bertanya siapa aku, dan sedang apa aku disini. Aku tersadar ketika ia melihat kakiku yang basah dan rokku yang terkena sedikit cipratan lumpur. Ia bertanya mengapa aku bisa ada disini, lalu aku jawab dengan ketus: "memang ini sekolah nenek moyangmu, mengapa juga aku tidak boleh berada disini, ini tempat umumkan?" aku sedikit menyesal ketika menjawabnya demikian (karena wajahnya ternyata agak sedikit, mm..tampan, haha), tapi itu terjadi karena aku sebal melihat tatapannya yang jijik ketika melihat aku dari atas sampai bawah. dia pikir aku ini lalat apa? seruku dalam hati (padahal selama ini aku memang merasa jadi lalat, terutama saat di rumah, haha). Lalu dengan cepat iya menjawab: "ini memang sekolah ini milik keluargaku". "haha, memangnya aku anak SD yang mudah ditipu ya? mana mungkin ada anak pemilik sekolah yang termenung sendirian menunggu payung di tengah derasnya hujan? bukankah ia seharusnya memiliki pengawal atau pembantu untuk menjaganya setiap saat dan tidak akan dibiarkan sendirian, apalagi kehujanan?", seruku cepat. Dan dia hanya tertawa melihatku. "dasar orang aneh yang punya segudang ambisi!" kataku sambil berlalu meninggalkan dia yang tersenyum geli. Kemudian aku menemui Sha yang sudah dari tadi mencariku, "kemana saja vin?" tanyanya. "ahh, aku hanya melihat-lihat sebentar, kampus ini bagus juga ternyata" jawabku setengah hati. Sha tersenyum dan berkata untuk kembali bersama Vlouse dan Nelsy, aku pun mengangguk. Saat berlari ke tempat kami berteduh tadi, aku berbalik sebentar dan menatap gedung tadi sambil mengingat wajah tampan yang terlihat sedih tadi, dan tanpa aku sadari aku tersenyum mengingatnya, dan aku pun tersadar lalu menertawakan diriku yang telah terpesona oleh seorang pria sombong lalu aku menggelengkan kepalaku menyatakan hal itu tidak boleh terjadi, dan seketika aku terjatuh.
Aku tersandung sebuah batu dan terjerembab ke dalam lubang kecil berbatu, tapi walau kecil lubang itu berhasil membuat luka berdarah pada kakiku. Sha panik dan menanyakan keadaanku, terlihat bingung karena aku hanya tertawa lalu bangkit seolah tidak ada rasa sakit. Ketika kami sampai, Vlouse dan Nelsy mengajak kami kembali ke asrama, tentunya karena melihat darah dari lukaku yang mengalir deras.
Sesampainya di kamar, Sha, Nelsy dan Vlouse dengan cepat membantuku membersihkan darah yang terus mengalir. Dan walau saat jatuh tadi aku tidak merasakan apapun, sekarang aku sedikit meringis karena ternyata kakiku robek sehingga mengeluarkan banyak darah. Namun aku tidak terlalu mempermasalahkan luka robek itu, aku berkata pada teman-teman sekamarku bahwa aku baik-baik saja. Lalu aku mendengar Vlouse bertanya pada Sha apa yang sebenarnya terjadi padaku saat menemaninya mencari toilet tadi, aku dengan cepat menyanggah perbincangan mereka dengan berkata bahwa aku hanya menemani Sha, tidak ada yang terjadi. Nelsy pun melihatku dengan curiga dan tersenyum ke arah Vlouse dan Sha, "apakah kau bertemu seorang pangeran?". Sial, seruku dalam hati. Hahahaha..
Mereka tidak berhenti sampai disitu, Sha pun melanjutkan pertanyaan Nelsy tadi dengan mengatakan apakah itu yang menyebabkan aku menghilang saat menunggunya di depan toilet? Aku buru-buru memotong pertanyaan itu sebelum makin menjadi dengan menyerukan "pangeran apanya, dia sombong sekali, masa dia mengatakan bahwa dirinya adalah anak dari pemilik kampus tersebut? mana mungkin anak pemilik kampus terlihat menyedihkan menunggu payung sendirian di tengah derasnya hujan? dia pasti punya pengawal, yah paling tidak seorang yang bisa disebut pembantu lah di sekitarnya. Dia tidak mungkin dibiarkan begitu saja" (aku mengira dia sedang menunggu payung karena dia melihat sedih ke arah jendela, seperti menunggu hujan reda). Tapi jawaban ketusku malah membuat teman-temanku tertawa terbahak-bahak.. "Rupanya dia telah bertemu seorang pangeran, bedanya pangeran itu bukannya jatuh cinta tapi menolaknya" kata Nelsy dengan penuh semangat. Aku merengut melihat tawa mereka, aku berkata tidak seperti itu, dia hanya seorang sombong yang mengaku-ngaku, dan lagi aku tidak ditolak (memang sejak kapan aku punya perasaan padanya? apalagi menyatakannya, menyatakan apa? tapi.. aku memang sepertinya punya sedikit perasaan, hahaha.. perasaan kesal atau suka ya? entahlah..)
6 bulan setelahnya, Vlouse akhirnya berpacaran dengan Vilz, mereka berbunga-bunga di tengah musim kemarau (apa hubungan berbunga dengan musim kemarau ya? haha). Sementara Nelsy dan Fridaltz masih dalam tahap pertemanan, karena setiap berjalan bersama mereka lebih sering bertengkar sih, jadi bingung juga melihat mereka, tapi biarlah. Hidup itu pilihan kan? hahaha.. Sha? Dia sama sepertiku, belum terlalu menginginkan adanya sebuah hubungan. Atau karena belum ada yang kami sukai, lebih tepatnya belum ada yang mendekati. Hahahaha..
Memasuki tahun ketiga kami di sekolah itu, kami tetap memutuskan untuk tinggal sekamar. Sekedar informasi, aku tidak pulang ke rumah selama liburan. Aku memutuskan untuk menghabiskan liburanku di rumah Sha, dan orang tuaku seperti biasa tidak menghalangi niatku. Terkadang aku berpikir apakah sebenarnya mereka menginginkanku? Atau aku sebenarnya hanya sekedar pelengkap saja? Tapi terserahlah, aku lelah mengeluh, aku berjanji pada diriku sendiri akan berusaha mencapai apa yang biasa disebut orang dengan kebahagiaan. Jika kebahagiaan tidak menghampiri, tidak ada salahnya bila kita lebih dahulu menghampiri bukan? Aku mendapatkan kutipan itu dari salah satu teman pria sebangkuku saat kelas 2 SMA.
Tahun ketiga, tahun terakhir dimana kami akan bersama. Aku, Vlouse, Nelsy dan Sha lebih sering menghabiskan waktu keluar bersama. Walau Vlouse dan Nelsy kini telah sama-sama berpasangan, mereka tetap saja bisa membagi waktu denganku dan Sha. Sampai suatu kali aku harus keluar sendiri di hari minggu dikarenakan Sha diajak jalan-jalan oleh Ken, ketua kelas kami, dan Vlouse serta Nelsy pun demikian. Akhirnya aku dengan penuh pengertian mencoba menghibur diri dengan berjalan-jalan ke taman bunga. Sendirian? Tentu saja. Hahaha..
Aku duduk di bangku taman sambil membaca novel kesukaanku, Breaking Down. Tiba-tiba ada seorang pria yang sedang berlari dan tiba-tiba.. brakkk!! Dia terbaring akibat tertabrak sepeda, tapi ini bukan masalah ringan, karena sepeda yang sedang melintas tidak hanya satu tapi sepuluh, untungnya yang menabraknya hanya 3 (hanya??), dan langsung pergi begitu saja. Huh, sangat tidak bertanggung jawab ya, atau karena mereka melihat sekilas pemuda yang mereka tabrak tidak apa-apa ya? Aku yang melihat juga hanya tertawa (seperti orang jahat ya aku.. hahaha), namun karena dia melihat ke arahku dengan tatapan menyedihkan (sebenarnya lebih terlihat kesal, karena kutertawakan sepertinya), aku bergegas menghampirinya dan memberinya uluran tangan untuk membantunya berdiri kembali. Tentu saja dia tidak menyambut uluran tanganku, dia berkata seharusnya kita tidak bertemu lagi. Lagi?? Siapa dia?? Setelah beberapa detik aku langsung tersadar, dia adalah pria yang dahulu menatap jendela penuh kesedihan di tengah derasnya hujan itu, itu dia! Aku yang dikatai seperti itu olehnya malah antusias melihatnya dan memaksa untuk menolongnya. Aku menarik tangannya dengan penuh semangat dan membawanya ke tempat dudukku tadi. Dia terdiam dan bingung, lalu bertanya: "kau, mengapa menarikku kesini?" Aku spontan menjawab, "bukankah kau terjatuh? sini aku bantu membersihkan lukanya", kataku ceria. "kau pikir aku kelinci percobaan? aku bisa mengobatinya sendiri, lagipula ini bukanlah luka serius, hanya perlu dibersihkan sedikit", sanggahnya. Kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkanku yang terduduk bingung. Kelinci percobaan? memangnya aku sedang bereksperimen? Tapi detik berikutnya kulihat dia mengerang kesakitan dan terjatuh. Aku panik dan menyusulnya, menahan agar tubuhnya tidak terjatuh terlalu keras ke tanah, tapi apa daya karena tubuhnya lebih besar dariku, alhasil kami malah terjatuh dua-duanya. "Aww, aduh!!!". Serempak kami mengucapkan kata-kata keluhan. Dia memandangku sinis, dan berkata: "mengapa kau menyusahkanku?". Aku tadinya berniat membalas ucapannya, namun terhenti ketika aku melihat kakinya yang gemetaran.. Rupanya luka tertabrak sepeda tadi sepertinya parah. Dengan penuh kesabaran aku hanya menatapnya dan berkata padanya untuk tidak bergerak karena aku akan membantunya, dan kali ini dia hanya terdiam menuruti ucapanku.
Saat aku mengobati lukanya yang hanya terlihat memar sedikit dari luar, dia berkata sebenarnya dia tadi sedang terapi.. What? Aku terhenti dan menatapnya, tapi dia berkata agar jangan mengasihaninya, dia pun mulai terbuka padaku dan menceritakan apa yang terjadi padanya. Aku pun mengerti dan berusaha menghiburnya dengan kata-kataku yang payah seperti: wah, aku kira kau benar-benar sempurna, ternyata tidak ya? hahaha.. Dia sekilas terdiam tak percaya mendengar apa yang kukatakan lalu kemudian tertawa dan membelai rambutku. Aku pun bingung dan bertanya mengapa dia tertawa? Dia hanya tersenyum dan menanyakan namaku. Aku menjawab, "panggil saja aku Vin, lalu kau siapa?" tanyaku. "Wil, sebut saja aku wil". Aku melonjak kegirangan setelah mengetahui namanya, dia terheran dan bertanya ada apa denganku, aku hanya berkata: "aku menemukan pangeranku". Dia semakin tertawa. Aku pun ikut tertawa. Kami pun bertukar nomor telepon, hihihi.
Setelah aku kembali ke asrama, aku langsung tertidur, berharap aku akan dapat bertemu dengannya dalam mimpi, hehe..
Senyumanku di pagi hari dari saat aku baru membuka mata hingga selesai mengikuti pelajaran tak terhindarkan, ketiga teman sekamarku pun mulai penasaran dan mengerubutiku seolah aku ini gula dan mereka semutnya, haha. Akhirnya aku bercerita bahwa aku sepertinya menyukai seseorang, sontak saja mereka makin penasaran dan bertanya padaku siapa namanya, tapi aku yang masih malu dan bingung menjawab bahwa aku hanya melihatnya, tidak mengetahui siapa namanya dan apapun tentang dia. Seketika itu juga mereka terduduk lemas dan mengatakan betapa payahnya aku. Aku pun hanya mengeluh lemas dan bersikap lunglai seolah kecewa seperti yang mereka harapkan. Namun tentu saja, itu hanya akal-akalanku saja, sebab jika mereka mengetahui keadaannya yang asli, pasti mereka akan memaksaku untuk mengenalkan mereka padanya, dan aku tidak akan bisa mengelak namun juga malu, jadi lebih baik untuk dihindari bukan? Setidaknya untuk saat ini, tolong biarkan aku mengenal sosok dirinya lebih dalam melalui kedekatan kami berdua, ya hanya kami saja, tanpa kusadari hal itu justru mungkin yang dapat membuatku mengalami kepedihan tanpa aba-aba.
Aku memulai hariku dengan penuh senyuman karena saat pagi hari aku sudah mendapat pesan darinya: selamat pagi, berbahagialah :), begitu pula di saat siang sore hingga malam hari. Tentu saja aku membalas pesannya dengan mudah karena aku membalasnya dengan menggunakan headset, jadi ketiga temanku mengira aku hanya sedang mengganti lagu, seperti yang biasa aku lakukan setiap harinya. Kebiasaan yang baik bukan? Membuat orang sama sekali tidak curiga bahwa sesungguhnya aku telah menjalin sebuah komunikasi, hihi. Tapi, mereka mulai curiga saat melihat bahwa aku selalu tidak keberatan jika ditinggalkan pada hari minggu untuk berpacaran. Nelsy bertanya padaku apa aku baik-baik saja? Apa ada yang terjadi? Namun Vlouse dengan cepat menyelidiki aku dengan tatapan mendelik dan bertanya apa yang sedang kusembunyikan? Apa aku menyimpan sebuah rahasia yang tidak mereka ketahui? Untung saja Sha menenangkan mereka dengan berkata bahwa aku mungkin sudah terbiasa ditinggalkan dan memintaku untuk segera mencari pasangan, karena mereka merasa tidak enak jika terus meninggalkan aku dan membiarkanku seorang diri. Aku pun menatap ketiga sahabatku dengan senyuman dan berkata bahwa aku baik-baik saja. Nelsy, Vlouse dan Sha berkata akan serempak membawa seorang pangeran tampan untukku, jadi aku harus tenang saja. Aku pun tersenyum dan memeluk mereka seraya berkata tenang saja, aku sudah terbiasa, jangan terlalu khawatir (dalam hati aku meminta maaf pada mereka karena aku belum berani menceritakan apapun pada mereka, sebab pria itu jauh umurnya di atas kami, aku masih ragu, hehe)
Hari-hari berlalu dan aku pun menjadi semakin dekat dengan pangeranku (hahahaha..). Berhubung dia adalah seorang pelajar yang serius, kami hanya ketemuan atau telponan pada hari minggu, dimana semua teman-temanku sedang pergi menghabiskan waktu dengan pacar masing-masing, jadi aku tidak masuk dalam daftar "dicurigai" oleh mereka. Suatu ketika, karena aku terlalu baik dalam menyimpan rahasia hubunganku dengan Wil (yah, memang belum jelas sih, masih hanya sebatas teman tapi..lebih sedikit mungkin ;) hahaha), Nelsy, Vlouse dan Sha tiba-tiba memintaku untuk menghabiskan weekend bersama di rumah Vlouse. Aku yang memang tidak memakai jatah weekendku selama ini mau-mau saja, hanya ketika aku bertanya pada mereka mengapa tiba-tiba, mereka hanya tersenyum dan melirikku dengan manja..aku jadi bingung..tapi ya sudahlah, mengapa harus bingung, toh memang aku tidak ada kegiatan yang pasti untuk menghabiskan weekend (slain berkomunikasi dengan Wil maksudku, ;) ).
Sesampainya di rumah Vlouse, kami membereskan barang bawaan kami sebentar, dan lalu membeli beberapa snack untuk dimakan bersama. Kami pun bercengkerama satu sama lain dengan ceria sambil mengunyah snack favorit kami, dan sebuah kalimat dari Nelsy tiba-tiba membuatku tersedak. "Vin, ada seorang pemuda tampan yang menyukaimu!" Aku langsung terdiam dan tersedak saat itu dan meminta tolong diambilkan air mineral dalam botol yang telah kami beli tadi. Sha langsung memberikannya dan membantuku dengan menepuk pundakku agar baikan sambil tertawa, begitu juga dengan Vlouse dan Nelsy yang melihatku dengan tertawa. "Kau pasti kaget bukan? Namun kalau bisa memilih, aku pasti lebih menerima yang ini daripada Fridaltz", tambah Nelsy untuk menggodaku. Aku hanya tertawa dan mencoba mendengarkan tanpa memberikan tanggapan. "Ayolah Vin", seru Sha. "Apanya yang ayo?" tanyaku mengelak. "Dia memintaku untuk bisa kenalan besok", sahut Vlouse. "Apa? Jadi ini jebakan?" ungkapku dalam hati..namun aku tak mungkin menceritakan keadaanku yang sesungguhnya pada teman-temanku bahwa sebenarnya hatiku sudah kuberikan pada seorang pria diluar sana. Aku terlalu malu mengungkapkannya, sebab kami sampai saat ini juga memang belum bisa dikatakan berpacaran, hehe.. "Baiklah", kataku mengakhiri perbincangan tersebut. Sha seketika memelukku dan berkata: "Tiap minggu kita akan segera keluar bersama!" Aku hanya tersenyum menanggapi dan tidak bersemangat sama sekali.
Keesokan harinya, aku diajak oleh ketiga temanku untuk berkenalan, aku sengaja bangun lebih lama dari mereka, supaya tidak jadi, tapi mereka tetap dengan setia membangunkanku, bahkan Sha rela untuk memandikanku, hahhaa.. Aku hanya menguap dan berjalan ke kamar mandi dengan malas, dan masih terlihat mengantuk di depan teman-temanku yang sekarang sepertinya menyebalkan (karena menyuruh aku berkenalan, haha).
Setelah aku usai bersiap, mereka langsung menggandengku ke tempat yang dijadwalkan. Dan tampaklah dari kejauhan seorang yang sepertinya aku kenal..tapi saat kami berjalan lebih dekat, ternyata aku belum mengenalnya, tapi di wajahnya aku seperti melihat pangeranku..apa ini mimpi, atau karena aku mengharapkan itu Wil, atau karena aku hanya ingin melihat Wil, atau...tapi entah mengapa, aku tidak bisa memiliki ketertarikan dengan orang ini. Hmph..
Setelah mempertemukan kami, ketiga temanku sepakat melangkah mundur dan pergi meninggalkan kami berdua, hanya berdua saja.. dan menurutku itu tidak menyenangkan sama sekali. Huhh.. tapi baiklah, hanya kenalan saja toh? ;) Dia mulai memperkenalkan diri dan menjabat tanganku. "Namaku Filliam, panggil saja aku Fil", katanya sambil tersenyum. "Vinly, biasa dipanggil Vin", jawabku. Kami pun berbincang sejenak dan mencoba untuk berteman, tapi hatiku tidak bisa memasukkan orang lain lagi, hahaha..
Setelah sekian lama berbincang (sebenarnya hanya sebentar, itu pun dia bertanya dan aku menjawab tanpa balik bertanya), aku pun kembali ke kediaman Vlouse, dan tentu saja Nelsy Vlouse dan Sha sedang menantikan kepulanganku.
"Bagaimana tadi Vin?" seru Vlouse. "Iya, apa dia benar-benar tertarik padamu?" seru Nelsy. "Apa kau cocok dengannya?" timpal Sha. Aku hanya menjawab semua pertanyaan mereka dengan tersenyum malas sambil merebahkan diri di atas kasur. "Huahh, aku mengantuk" jawabku kemudian. Lalu serempak sahabat-sahabatku menarik kaki dan tanganku tanda tidak setuju dengan sikapku. "Ayolah Vin, ceritakan tentangnya, kami benar-benar penasaran dari tadi" pinta Nelsy. "Hm, tidak ada apapun, kami hanya berbincang biasa, dan dia meminta nomor hpku sesudahnya" jawabku asal. "Wow, berarti dia ada sinyal positif untuk lebih dekat denganmu", goda Vlouse. "Bagaimana perasaanmu sendiri Vin?" tanya Sha. "Aku biasa saja, aku tidak tertarik, maafkan aku teman-teman, pintaku dengan wajah memelas agar mereka tidak lagi membahas lelaki tadi. "Yah..mungkin kau belum mau merasakannya saja, coba saja dulu untuk berkomunikasi, mungkin kau akan memilih untuk bersikap berbeda" seru Sha. "Mungkin saja" sahutku cepat. "Baiklah kalau begitu, kita menonton saja malam ini untuk merayakan perkenalan Vinly dengan Filliam" usul Nelsy. Kami berempat pun segera bersiap (bersiap membeli dvd dan snack lalu menonton di kamar maksudnya, haha).
Setelah kami kembali ke sekolah, Filliam mencoba mengajakku bertemu. Dan ternyata dia satu sekolah denganku, hanya dia adalah kakak kelasku setahun di atasku. Hm, karena aku tidak mau dikira orang sombong, aku pun dengan berat hati mengiyakan ajakannya. Jam 4 sore di taman sekolah. Setelah pelajaran terakhir berakhir akupun dengan malas mengganti bajuku dan bersiap menemuinya. Sha mencoba menggodaku dan bertanya "mau kemana Vin? sepertinya ada yang punya kencan sekarang!" Otomatis Vlouse dan Nelsy pun menoleh dan mulai mengintrogasiku dengan seksama. "Pasti bertemu Filliam!! Dia mengajakmu ketemuan kan Vin?" Aku pun hanya tersenyum tipis sambil memandang ketiga temanku yang seperti mendapat lotre karena melihatku akan bertemu dengan seorang pria. Mereka pun sangat kegirangan melihatku. Mereka membantuku bersiap-siap dan menceramahiku dengan dengan berbagai tips pembicaraan yang akan membawaku kepada cinta (katanya). Huhh.. Baiklah baiklah, sahutku. Di tengah perjalanan, pikiranku kembali melayang, berpikir apa kabar Wil? Mengapa dia tidak ada kabarnya sudah beberapa hari. Ah, sudahlah.. Toh aku bukan pacarnya.. Tapi mengapa aku khawatir? Dan sekarang aku malah menemui orang lain? Hm, pikiranku campur aduk seperti es campur yang sudah hampir basi alias rumit dan kacau. Namun aku berusaha menepis segala pikiran negatif yang berkecamuk di dalam benakku. Sudahlah, tenang Vin, seruku seraya menenangkan batinku.
Tadaaa, sesampainya aku di taman aku pun melihat sesosok makhluk yang aku rindukan. Ya, aku yakin itu dia, namun entah mengapa aku hanya berdiri terpaku menatapnya dari kejauhan di bawah sebuah pohon rindang. Aku melihatnya sedang duduk bersama seorang perempuan cantik. Cantik sekali. Mereka sedang bercanda dan tertawa riang. Tubuhku bagai disambar petir. Tidak. Ini bukan kenyataan, mungkin ini mimpi buruk, seruku. Ayo bangun Vin, bangunnn!!! Tanpa terasa dadaku sesak, air mataku mulai turun berjatuhan seperti air hujan yang turun dengan derasnya. Aku terhanyut dalam kenangan indahku yang membuatku sangat mengharapkannya, namun ternyata inilah penyebab dia tak ada kabar. Ya, dia sudah bersama orang lain. Dan aku hanya seperti orang bodoh yang tidak dapat berdiri tegak menerima kenyataan, padahal aku pun tidak berhak marah. Kami belum jadian, dan mungkin tidak akan. Aku yang terlalu percaya diri. Aku pun berlari meninggalkan taman dan mencari tempat yang sunyi untuk melampiaskan kesedihanku yang tidak dapat kuceritakan kepada siapapun.. ya, karena dari awal aku tidak menceritakannya, mana mungkin aku menceritakan hanya bagian akhirnya kepada teman-temanku.. Aku berjalan menyusuri pepohonan yang rindang dan menemukan tempat sunyi dibalik pepohonan di pinggiran sungai kecil yang mengalir perlahan namun menyejukkan. Aku pun memutuskan untuk menghibur diriku disana. Setelah satu jam berlalu, tanpa sadar aku tertidur dalam tangisan. Dan saat aku membuka mata, disebelahku ada sosok yang lembut, yang ternyata sudah menopang kepalaku sedari tadi dan tersenyum ke wajahku. Sesaat aku terpana, dan bingung, apakah ini hanya mimpi atau siapa orang ini? Seingatku aku tidak bersama siapapun.. Aku mencoba berpikir ulang, dan menata kembali memoriku yang sepertinya mengambang karena kejadian di taman.. Dan aku pun terkesiap. Aku segera duduk dengan posisi yang benar dan meminta maaf karena aku malah tertidur di pundaknya. Dan aku pun harus meminta maaf karena aku melupakan janji bertemu begitu saja. Ya, dia adalah Filliam, pria yang seharusnya kutemui siang ini, namun karena pikiranku hanya terfokus pada Wil, lelaki yang bahkan tidak mengingatku, aku jadi melupakan pria ini. Namun Filliam tidak marah, dia bahkan tersenyum. Aku pun dengan malu mengucapkan maaf, dan bertanya bagaimana dia tau aku disini? Filliam dengan nada lembut hanya berkata " sebut saja aku Fil, dan maaf juga karena mengagetkanmu. Aku melihatmu berjalan kesini, dari taman itu. Aku pikir, kamu sedang dalam masalah, namun tidak perlu menceritakannya karena aku yakin kamu ingin privasi. Boleh kita mengatur ulang jadwal ketemuan? Aku melihat kamu sudah sangat lelah hari ini.. Aku tidak ingin membuatmu sulit" Ahhh.. pria ini baik sekali, namun aku yang masih belum memiliki rasa terhadapnya masih kikuk dan hanya sanggup membalas senyumannya. Kami pun pulang ke kampus seraya mengobrol ringan.

Sejak saat itu, aku pun mulai akrab dengan Filliam atau sebut saja Fil, seperti keinginannya dan tentu saja aku berusaha melupakan Wil. Fil sangatlah baik. Dia selalu ada untukku dan hal ini membantuku menghapus kenangan Wil, dan ketika teman-temanku sedang berpacaran dia pun sangat setia menemani hari-hariku dan mendengarkan celotehanku. Tanpa terasa hatiku bahagia bila ada disampingnya. Suatu sore, kami sedang berjalan bersama menyusuri pepohonan, lalu tiba-tiba ia berhenti dan menatap ke arahku sambil tersenyum. Aku yang sudah mulai terbiasa dengan senyumannya pun membalas dengan senyuman pula. Dia mulai berkata sesuatu, namun terlihat ragu. Aku pun tanpa basa-basi bertanya padanya "ada apa Fil? Seperti ada yang ingin kamu sembunyikan?" tanyaku spontan. "Hahaha, aku takut" serunya gugup. Aku yang penasaran pun mendelikkan mataku melihatnya dan menggodanya, maklum kami sudah seperti sahabat karib setelah akhirnya teman-temanku selalu hanya berduaan saja aku pun lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Fil. Fil mulai menatapku kembali dan mencoba berbicara "Vin, aku memiliki 2 berita, apakah kamu mau mendengar kedua-duanya?" Berita apa? sahutku bingung. "Hm, bagaimana ya, aku juga ragu akan memulainya darimana" sanggahnya. Katakanlah Fil, sahutku meyakinkan. "Begini Vin, aku sudah dari awal menyukaimu, saat aku melihatmu menangis dan menyendiri kala itu, aku rasa aku sudah benar-benar jatuh hati padamu. Namun aku tidak mau memaksamu, jadi aku berusaha menjadi sahabatmu dahulu, dan sejujurnya aku ingin sekali memintamu menjadi pasanganku, namun aku memiliki sesuatu yang tak terhindarkan.. Aku, akan pergi 2 bulan lagi ke New York bersama kedua orangtuaku karena ayahku dipindahtugaskan kesana dan aku tak kuasa menolak permintaan ibuku untuk tetap bersama mereka karena aku adalah anak tunggal.." Fil menyelesaikan kalimatnya dengan nada yang hampir tidak terdengar namun entah mengapa semua ini terdengar sangat jelas dan seperti tamparan bagiku.

Shock, tentu saja. Karena shocknya aku langsung terus berlari ke kamarku dan menahan rasa sakit di dadaku yang tak ada hentinya. Ini lebih sakit dari saat aku melihat Wil bersama wanita lain. Ini double pain, tidak! Triple pain. Aku menangis keras dalam kamarku, beruntung ketiga temanku tidak sedang berada di kamar, jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun. Namun saat mereka kembali pasti mereka akan mengintrogasiku, tidak bisa. Aku sedang tidak ingin diganggu, aku harus mencari tempat bersembunyi, ya bersembunyi dari kekalutan ini. Aku pun memutuskan untuk pergi ke gedung sekolah yang sudah sepi, sebab jika aku ke tempat biasa, pasti Fil akan menemukanku.
Aku membayangkan hari-hariku bersama Fil.. Aku sangat stres.. Ini tidak pernah ada dalam bayanganku.. Mengapa? Eh! Tunggu. Fil tadi mengatakan apa sebelum membicarakan New York? Bahwa dia ingin menjadikanku pasangan? Pasangan??? Apa itu artinya, dia ingin menjadi.. ? Ah, mengapa tadi aku berlari begitu saja? Aku payah sekali, sekarang bagaimana aku akan mengklarifikasinya kembali, aku sangat malu. Namun tiba-tiba, kraakk. Aku menoleh seketika melihat apa yang terjadi. Pintu ruang tempatku bersembunyi dibuka, dan itu Wil. Wil??!! Sedang apa makhluk itu disini, pikirku. "Ada apa Vin? Aku tak sengaja melihatmu menangis tadi saat berjalan kesini, aku pikir kamu menemui seseorang disini, namun ketika aku periksa, ternyata sudah tidak ada siapapun. Ada apa?" katanya dengan penuh perhatian. Sudah tidak usah urus yang tidak perlu, aku baik-baik saja, sahutku ketus.
Aku pergi meninggalkan Wil di gedung itu, aku jelas tidak mau diganggu oleh siapapun saat ini. Mengapa dia harus kembali disaat seperti ini? Aku tidak mau jatuh untuk yang kedua kalinya. Aku berjalan cepat seraya menumpahkan emosiku yang sedang tidak beraturan dan aku terpeleset. Auchhh, sakit sekali! seruku dalam hati. Lalu datanglah Fil berlari ke arahku dan langsung mengangkatku dengan wajah yang penuh kekhawatiran dia langsung menggendongku. Aku minta diturunkan namun ia tidak menghiraukanku. "Vin, aku minta maaf jika aku mengejutkanmu. Inilah keraguanku, aku takut kamu tidak mencapai maksudku." kata Fil seraya menggendongku. Kumohon turunkan aku, pintaku. Lalu ia pun menurunkanku dan duduk disebelahku. "Aku minta maaf Vin, aku tidak seharusnya mengatakan hal ini kepadamu." katanya sambil menunduk. Aku pun menatap wajahnya dan berkata "justru jika kamu tidak mengatakannya, aku akan lebih sedih." Dia langsung menatapku kembali. "Fil, berapa lama kamu akan ada disana?" kataku. "Aku belum tahu Vin, tapi yang bisa kupastikan adalah, aku akan kembali untukmu, secepat yang aku bisa. Bersediakah kamu menjadi pasanganku yang setia dan menungguku?" sahutnya dengan mata nanar mengharapkan. "Janji akan selalu mengabariku? Komunikasi denganku?" seruku. "Pasti sayang, aku akan melakukannya" sahutnya. Seketika pipiku memerah, bukan apa-apa, aku sangat bahagia dengan panggilan baruku. Yah, sepele memang, tapi aku merasa bahagia sekarang, walaupun aku tahu itu hanya akan berlangsung selama 2 bulan ini, dan entah apa yang menanti kami di depan sana. Dia pun memelukku dan aku balas memeluknya.
Tanpa terasa sebulan sudah berlalu, dan aku sangat bahagia. Ya, aku kini merasakan yang disebut pacaran. Dan tentu saja Vlouse, Sha dan Nelsy pun sangat gembira melihat perkembanganku. Kini setiap malam kami sudah punya kekasih masing-masing, dan tentu saja teman-temanku tidak mengetahui perihal kepergian Fil ke New York. Aku pun seperti berusaha melupakan hal itu dan berusaha menciptakan sebanyak mungkin kenangan bersama Fil. Kami bermain, bercanda, berusaha membuat sebanyak mungkin agenda yang ingin kami lakukan sebagai pasangan. Membeli baju couple, memakai gelang yang sama, membeli peralatan yang sama dan banyak lagi hal seru yang kami lakukan. Ya, beginilah nasib yang akan menjadi cinta jarak jauh, kami berlaku seolah tidak ada hari esok. Hahaha..
Saat ini adalah hari buruk itu. Yah, secara teknis bagiku ini buruk, namun aku tidak ingin mengatakannya pada Fil, sebab ini permintaan orangtuanya. Aku berusaha menyembunyikan air mataku saat harus mengucapkan selamat tinggal padanya. Jujur saja, ini sulit. Aku berusaha tampil seceria mungkin melihatnya pergi, dan saat dia sudah masuk ke dalam jalur pemberangkatan menuju New York, air mataku tumpah seketika. Dan tanpa aku sadari, dia ternyata keluar lagi dan memelukku erat sambil menghapus air mataku.
"Vin, terima kasih atas cintamu selama ini, aku tahu kamu berusaha menyembunyikan kesedihanmu selama ini agar aku tidak terbeban, tapi justru aku sangat tidak tenang jadinya. Dan melihatmu menangis saat ini membuatku tenang," ucapnya perlahan. Tangisanku membuatmu tenang? sahutku bingung. "Ya, tentu saja" jawabnya sambil tersenyum. Mengapa? tanyaku. "Karena dengan begitu aku tahu betapa dalamnya cinta kita". Aku pun tersipu malu, namun dia melanjutkan kata-katanya kembali. "Tunggu aku, aku akan membuktikan bahwa cinta kita abadi, berdoalah agar kita dapat dipersatukan oleh Tuhan secepatnya ya" sahutnya meyakinkanku. Baiklah, jawabku singkat.
6 bulan sudah dia di New York. Aku dengan setia menunggu kabar darinya. Hari ini adalah hari terakhir untuk UAN. Setelah ini kami akan lulus, dan aku berencana untuk menjenguknya ke New York. Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku bahkan berencana untuk melanjutkan kuliah disana, yang tentu saja teman-temanku menentang hal tersebut karena tidak ingin berpisah denganku. Aku minta maaf namun aku ingin mengejar impian dan cintaku. Mereka pun mengalah setelah aku menjanjikan untuk pulang setiap semester ke Indonesia.
bersambung
4 tahun yang lalu,
Hai semua, namaku Vinly, aku adalah anak tunggal dalam keluargaku, aku sebenarnya ingin sekali memiliki saudara..entah itu perempuan atau laki-laki, yang penting saudara!.. Tapi yahh..mungkin memang harus aku terima, saat ibuku melahirkanku, ibu menceritakan bahwa dokter berkata kondisi rahimnya memprihatinkan sehingga tidak boleh mengandung dan melahirkan lagi, walau aku kurang mengerti penyebabnya, tapi aku berusaha menerima hasilnya.
Well, kehidupan tanpa saudara sebenarnya benar-benar membosankan. Terang saja demikian, tidak ada teman curhat, ayah dan ibu sibuk untuk bekerja (katanya sih demi aku), dan biasanya aku hanya ditemani bibi yang membantu ibu dalam melakukan pekerjaan rumah tangga(RT) yang biasanya hanya mendengarkanku sambil melakukan pekerjaannya. Singkatnya, aku merasa hampa.Dan berawal dari selesainya aku menerima pendidikan di bangku SMP, aku pun meminta untuk bersekolah di asrama, aku ingin memiliki saudara walaupun tidak kandung, aku ingin dapat merasakan kehangatan teman-teman sepanjang hari (tidak hanya di sekolah), dan tentunya memiliki pengalaman baru yang aku harap akan menyenangkan, namun aku tidak mengatakan hal yang sejujurnya kepada orang tuaku, aku hanya berkata ingin belajar menjadi seorang yang mandiri. Dan diluar dugaan, orang tuaku menyetujui usulku begitu saja, sedikit kekecewaan tersirat dalam benakku..namun aku berusaha menepis perasaanku yang kecewa dan menggantikannya menjadi perasaan yang bahagia menanti apa yang mungkin terjadi saat aku SMA nanti. Pasti akan menyenangkan, pikirku ceria.
Aku pun berangkat menuju tempat yang kuinginkan. Benar saja, ada banyak orang disana. Aku sekamar dengan 3 orang sekelasku. Kami pun berkenalan dan saling bercerita, semua terjalin begitu saja, kami pun bersahabat.
Aku, Vlouse, Nelsy dan Felinsha. Kami sekamar setiap hari berbagi akan pengalaman yang terjadi selama ini (yahh, apalagi yang dilakukan oleh kebanyakan gadis saat setiap malam bila bersama bukan? hahaha). Namun tetap saja kami kadang terbagi, aku lebih dekat dengan Sha (nama panggilan Felinsha), Vlouse dan Nelsy pun lebih akrab bersama. Akan tetapi kami tidak terbagi karena terpecah lohh..kami hanya sering curhat berpasangan, hihihi..
Kami sekamar hobby mendaki (sebenarnya awalnya aku sih tidak, tapi jadi suka deh karena mendengar asyiknya pengalaman teman-teman sekamarku saat mendaki), kami pun sering mendaki bukit di sebelah sekolah kami, bukit itu indah sekali.. Kami berjalan membawa perlengkapan makanan, obat-obatan dan tidak lupa handphone untuk merekam setiap peristiwa indah dan cantik yang kami temui (alias narsis, hehehe).
Saat kami memasuki tahun kedua di sekolah itu, kami memutuskan untuk tinggal sekamar lagi (pergantian kamar diadakan satu kali setahun di asrama agar semua berbaur), dan karena itu kami sempat mendapat sedikit masalah dengan ibu asrama kami, hihi.. Kami pun memohon padanya untuk mengizinkan kami tinggal sekamar lagi, dan akhirnya kami pun diizinkan. Oh iya, aku lupa, saat liburan pertamaku ke rumah, aku sama sekali tidak dihiraukan, sama saja seperti lalat beterbangan di atas sampah, tidak dianggap. Jadi aku setiap hari hanya berharap dapat kembali ke asrama, namun ketika hari terakhir aku berada di rumah, Ayahku berkata: "nak, bagaimana disana, apakah menyenangkan?" Aku pun menjawab: "tentu saja", kemudian pergi masuk ke kamar dan menyiapkan koperku sambil bernyanyi riang.
Kembali ke sekolah
Aku senang sekali, sehari di rumah serasa 1 abad, bayangkan saja liburan 2 minggu di rumahku aku jadi apa? haha.. Tapi yang terpenting aku ada disini sekarang, di sekolah, di kamarku yang penuh canda tawa. Vlouse dan Nelsy sibuk membuka barang yang mereka bawa dari rumah, masing-masing menceritakan pengalaman liburannya, aku terhenyak. Liburanku hanya kuisi dengan internetan dan membunuh waktu dengan membuka foto-fotoku dan teman-teman selama di sekolah. Mereka berkata bahwa mereka menemui teman-teman SMP mereka dan bernostalgia, Sha pun bercerita bahwa dia liburan dengan keluarganya ke Singapura. Aku bukannya tidak bisa keluar negri, uang jajanku saja cukup untuk ongkos pulang pergi keluar negri, hanya saja.. tidak ada orang yang dapat kuajak untuk pergi bersamaku.. see, uang bukanlah segalanya!..Teman-temanku pun bergantian bercerita hingga mereka membuyarkan lamunanku dan bertanya bagaimana liburanku. Aku hanya menjawab singkat dan berkata: "tidak lebih baik dari saat aku bersama kalian disini." Mereka pun mengerti bahwa aku kesepian, lalu tiba-tiba saja Vlouse mengajak kami semua untuk berjalan-jalan esok hari, "selagi masih awal pendaftaran, kita kan belum langsung masuk sekolah", katanya semangat. kami pun serempak menganggukkan kepala, tersenyum.
Saat keesokan harinya, kami pun sudah bersiap untuk melakukan traveling hari ini. "tema hari ini adalah kebahagiaan", seru Nelsy. Kami pun tertawa. Kami awali hari itu dengan makan diluar bukan di dining (tempat makan di asrama 3x sehari, dengan lauk hanya tahu, tempe, telur diiringi sayur dan buah. hahaha). Kami makan di pinggiran jalan namun tetap makanan yang sehat lohh (nasi uduk) hahaha.. sehat kan? ada sayurannya juga itu, hahaha.. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke taman dimana kami dapat melihat banyak bunga yang bermekaran dengan indahnya.. Oh iya, aku lupa menyebutkan ya, kami tidak hanya jalan berempat, Nelsy dan Vlouse mengajak teman pria mereka (bukan pacar, tapi para pria tersebut memang sedang mendekati Nelsy dan Vlouse) untuk berjalan-jalan bersama kami, sehingga aku dan Sha pun benar-benar hanya berdua menikmati kesendirian kami saat berjalan, hahaha..
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. aku dan teman-teman pun berlarian mencari tempat untuk berteduh. Vlouse mengomel, "kok bisa ya hujan di tengah teriknya mentari pagi yang begitu hangat?". Duh si Vlouse, bisa-bisanya ngomel dengan bahasa puitis, haha. "mungkin ini hujan buatan" seru Vilz (pria yang sedang dalam tahap pdkt dengan Vlouse). "ya, mungkin saja", seruku. "setahuku berdasarkan mitos, jika ada hujan di tengah panasnya sinar matahari itu menandakan adanya kepergian seseorang, yang menyebabkan langit pun berduka" sergah Nelsy (Nelsy memang sangat percaya pada mitos-mitos). "duh, siapa ya orang malang tersebut, kasihan keluarganya", timpal Sha. "hush, sudahlah, jangan membicarakan hal yang hanya berdasarkan mitos, belum bisa dipastikan kebenarannya sudah menyumpahi", seru Fridaltz (pria yang sedang pdkt dgn Nelsy namun lebih sering bertengkar dan menyanggah setiap perkataan Nelsy dibanding setuju, apa menggunakan metode seperti dalam drama korea yang selalu bertengkar pada awalnya kali ya? hihi). "huh, kamu selalu saja menyeramkan seperti namamu, Fridaltz yang sepertinya berasal dari friday : jumat, alias jumat malam, jumat kliwon, harinya para hantu keluar mencari mangsa", gidik Nelsy. Fridaltz pun dengan tenang menjawab: "aku memang terlahir di malam jumat kliwon, namun bukan berarti aku hantu, dan lagi tidak setiap jumat malam adalah jumat kliwon, itulah akibatnya bila terlalu percaya pada mitos, lagipula jika aku benar-benar adalah hantu seperti yang kamu inginkan, bukankah aku seharusnya memangsa kamu terlebih dahulu?". "hahahaha, sudahlah, sebaiknya kalian berhenti bertengkar, jika ada orang lain yang melihat kalian akan dikira pasangan suami-istri yang baru menikah dan bertengkar" seruku. Dan tentu saja perkataanku malah membuat aku mendapat tatapan tajam oleh keduanya. "oke oke, aku salah bicara, maaf" keluhku. Padahal kan mereka saling suka, bukannya bagus ya jika terlihat seperti pasangan sesungguhnya. Aku masih kurang mengerti mengapa mereka malah marah, atau sebenarnya hanya pura-pura marah demi gengsi ya..hahhaa, tak taulah, yang pasti hampir saja aku dimakan oleh Nelsy dan Fridaltz, hahahaha.. Kemudian Sha memintaku untuk menemaninya pergi mencari toilet sebentar, akhirnya aku dan Sha pun pergi berlari menuju gedung terdekat yang ada di sekitar taman itu untuk mencari toilet.
Itu adalah gedung perkuliahan, tempat dimana banyak orang menimba ilmu (ya iyalah, masa menimba air, itu mah sumur. haha). Saat menunggu Sha yang sedang masuk ke toilet, aku melihat seorang pria di pojok gedung sedang menatap sedih keluar jendela dan tanpa sadar aku mendekat ke arahnya. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan melihatku sedang menatapnya, aku buru-buru mengalihkan perhatianku ke arah lain, namun ia sebaliknya. Ia berjalan ke arahku dan bertanya siapa aku, dan sedang apa aku disini. Aku tersadar ketika ia melihat kakiku yang basah dan rokku yang terkena sedikit cipratan lumpur. Ia bertanya mengapa aku bisa ada disini, lalu aku jawab dengan ketus: "memang ini sekolah nenek moyangmu, mengapa juga aku tidak boleh berada disini, ini tempat umumkan?" aku sedikit menyesal ketika menjawabnya demikian (karena wajahnya ternyata agak sedikit, mm..tampan, haha), tapi itu terjadi karena aku sebal melihat tatapannya yang jijik ketika melihat aku dari atas sampai bawah. dia pikir aku ini lalat apa? seruku dalam hati (padahal selama ini aku memang merasa jadi lalat, terutama saat di rumah, haha). Lalu dengan cepat iya menjawab: "ini memang sekolah ini milik keluargaku". "haha, memangnya aku anak SD yang mudah ditipu ya? mana mungkin ada anak pemilik sekolah yang termenung sendirian menunggu payung di tengah derasnya hujan? bukankah ia seharusnya memiliki pengawal atau pembantu untuk menjaganya setiap saat dan tidak akan dibiarkan sendirian, apalagi kehujanan?", seruku cepat. Dan dia hanya tertawa melihatku. "dasar orang aneh yang punya segudang ambisi!" kataku sambil berlalu meninggalkan dia yang tersenyum geli. Kemudian aku menemui Sha yang sudah dari tadi mencariku, "kemana saja vin?" tanyanya. "ahh, aku hanya melihat-lihat sebentar, kampus ini bagus juga ternyata" jawabku setengah hati. Sha tersenyum dan berkata untuk kembali bersama Vlouse dan Nelsy, aku pun mengangguk. Saat berlari ke tempat kami berteduh tadi, aku berbalik sebentar dan menatap gedung tadi sambil mengingat wajah tampan yang terlihat sedih tadi, dan tanpa aku sadari aku tersenyum mengingatnya, dan aku pun tersadar lalu menertawakan diriku yang telah terpesona oleh seorang pria sombong lalu aku menggelengkan kepalaku menyatakan hal itu tidak boleh terjadi, dan seketika aku terjatuh.
Aku tersandung sebuah batu dan terjerembab ke dalam lubang kecil berbatu, tapi walau kecil lubang itu berhasil membuat luka berdarah pada kakiku. Sha panik dan menanyakan keadaanku, terlihat bingung karena aku hanya tertawa lalu bangkit seolah tidak ada rasa sakit. Ketika kami sampai, Vlouse dan Nelsy mengajak kami kembali ke asrama, tentunya karena melihat darah dari lukaku yang mengalir deras.
Sesampainya di kamar, Sha, Nelsy dan Vlouse dengan cepat membantuku membersihkan darah yang terus mengalir. Dan walau saat jatuh tadi aku tidak merasakan apapun, sekarang aku sedikit meringis karena ternyata kakiku robek sehingga mengeluarkan banyak darah. Namun aku tidak terlalu mempermasalahkan luka robek itu, aku berkata pada teman-teman sekamarku bahwa aku baik-baik saja. Lalu aku mendengar Vlouse bertanya pada Sha apa yang sebenarnya terjadi padaku saat menemaninya mencari toilet tadi, aku dengan cepat menyanggah perbincangan mereka dengan berkata bahwa aku hanya menemani Sha, tidak ada yang terjadi. Nelsy pun melihatku dengan curiga dan tersenyum ke arah Vlouse dan Sha, "apakah kau bertemu seorang pangeran?". Sial, seruku dalam hati. Hahahaha..
Mereka tidak berhenti sampai disitu, Sha pun melanjutkan pertanyaan Nelsy tadi dengan mengatakan apakah itu yang menyebabkan aku menghilang saat menunggunya di depan toilet? Aku buru-buru memotong pertanyaan itu sebelum makin menjadi dengan menyerukan "pangeran apanya, dia sombong sekali, masa dia mengatakan bahwa dirinya adalah anak dari pemilik kampus tersebut? mana mungkin anak pemilik kampus terlihat menyedihkan menunggu payung sendirian di tengah derasnya hujan? dia pasti punya pengawal, yah paling tidak seorang yang bisa disebut pembantu lah di sekitarnya. Dia tidak mungkin dibiarkan begitu saja" (aku mengira dia sedang menunggu payung karena dia melihat sedih ke arah jendela, seperti menunggu hujan reda). Tapi jawaban ketusku malah membuat teman-temanku tertawa terbahak-bahak.. "Rupanya dia telah bertemu seorang pangeran, bedanya pangeran itu bukannya jatuh cinta tapi menolaknya" kata Nelsy dengan penuh semangat. Aku merengut melihat tawa mereka, aku berkata tidak seperti itu, dia hanya seorang sombong yang mengaku-ngaku, dan lagi aku tidak ditolak (memang sejak kapan aku punya perasaan padanya? apalagi menyatakannya, menyatakan apa? tapi.. aku memang sepertinya punya sedikit perasaan, hahaha.. perasaan kesal atau suka ya? entahlah..)
6 bulan setelahnya, Vlouse akhirnya berpacaran dengan Vilz, mereka berbunga-bunga di tengah musim kemarau (apa hubungan berbunga dengan musim kemarau ya? haha). Sementara Nelsy dan Fridaltz masih dalam tahap pertemanan, karena setiap berjalan bersama mereka lebih sering bertengkar sih, jadi bingung juga melihat mereka, tapi biarlah. Hidup itu pilihan kan? hahaha.. Sha? Dia sama sepertiku, belum terlalu menginginkan adanya sebuah hubungan. Atau karena belum ada yang kami sukai, lebih tepatnya belum ada yang mendekati. Hahahaha..
Memasuki tahun ketiga kami di sekolah itu, kami tetap memutuskan untuk tinggal sekamar. Sekedar informasi, aku tidak pulang ke rumah selama liburan. Aku memutuskan untuk menghabiskan liburanku di rumah Sha, dan orang tuaku seperti biasa tidak menghalangi niatku. Terkadang aku berpikir apakah sebenarnya mereka menginginkanku? Atau aku sebenarnya hanya sekedar pelengkap saja? Tapi terserahlah, aku lelah mengeluh, aku berjanji pada diriku sendiri akan berusaha mencapai apa yang biasa disebut orang dengan kebahagiaan. Jika kebahagiaan tidak menghampiri, tidak ada salahnya bila kita lebih dahulu menghampiri bukan? Aku mendapatkan kutipan itu dari salah satu teman pria sebangkuku saat kelas 2 SMA.
Tahun ketiga, tahun terakhir dimana kami akan bersama. Aku, Vlouse, Nelsy dan Sha lebih sering menghabiskan waktu keluar bersama. Walau Vlouse dan Nelsy kini telah sama-sama berpasangan, mereka tetap saja bisa membagi waktu denganku dan Sha. Sampai suatu kali aku harus keluar sendiri di hari minggu dikarenakan Sha diajak jalan-jalan oleh Ken, ketua kelas kami, dan Vlouse serta Nelsy pun demikian. Akhirnya aku dengan penuh pengertian mencoba menghibur diri dengan berjalan-jalan ke taman bunga. Sendirian? Tentu saja. Hahaha..
Aku duduk di bangku taman sambil membaca novel kesukaanku, Breaking Down. Tiba-tiba ada seorang pria yang sedang berlari dan tiba-tiba.. brakkk!! Dia terbaring akibat tertabrak sepeda, tapi ini bukan masalah ringan, karena sepeda yang sedang melintas tidak hanya satu tapi sepuluh, untungnya yang menabraknya hanya 3 (hanya??), dan langsung pergi begitu saja. Huh, sangat tidak bertanggung jawab ya, atau karena mereka melihat sekilas pemuda yang mereka tabrak tidak apa-apa ya? Aku yang melihat juga hanya tertawa (seperti orang jahat ya aku.. hahaha), namun karena dia melihat ke arahku dengan tatapan menyedihkan (sebenarnya lebih terlihat kesal, karena kutertawakan sepertinya), aku bergegas menghampirinya dan memberinya uluran tangan untuk membantunya berdiri kembali. Tentu saja dia tidak menyambut uluran tanganku, dia berkata seharusnya kita tidak bertemu lagi. Lagi?? Siapa dia?? Setelah beberapa detik aku langsung tersadar, dia adalah pria yang dahulu menatap jendela penuh kesedihan di tengah derasnya hujan itu, itu dia! Aku yang dikatai seperti itu olehnya malah antusias melihatnya dan memaksa untuk menolongnya. Aku menarik tangannya dengan penuh semangat dan membawanya ke tempat dudukku tadi. Dia terdiam dan bingung, lalu bertanya: "kau, mengapa menarikku kesini?" Aku spontan menjawab, "bukankah kau terjatuh? sini aku bantu membersihkan lukanya", kataku ceria. "kau pikir aku kelinci percobaan? aku bisa mengobatinya sendiri, lagipula ini bukanlah luka serius, hanya perlu dibersihkan sedikit", sanggahnya. Kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkanku yang terduduk bingung. Kelinci percobaan? memangnya aku sedang bereksperimen? Tapi detik berikutnya kulihat dia mengerang kesakitan dan terjatuh. Aku panik dan menyusulnya, menahan agar tubuhnya tidak terjatuh terlalu keras ke tanah, tapi apa daya karena tubuhnya lebih besar dariku, alhasil kami malah terjatuh dua-duanya. "Aww, aduh!!!". Serempak kami mengucapkan kata-kata keluhan. Dia memandangku sinis, dan berkata: "mengapa kau menyusahkanku?". Aku tadinya berniat membalas ucapannya, namun terhenti ketika aku melihat kakinya yang gemetaran.. Rupanya luka tertabrak sepeda tadi sepertinya parah. Dengan penuh kesabaran aku hanya menatapnya dan berkata padanya untuk tidak bergerak karena aku akan membantunya, dan kali ini dia hanya terdiam menuruti ucapanku.
Saat aku mengobati lukanya yang hanya terlihat memar sedikit dari luar, dia berkata sebenarnya dia tadi sedang terapi.. What? Aku terhenti dan menatapnya, tapi dia berkata agar jangan mengasihaninya, dia pun mulai terbuka padaku dan menceritakan apa yang terjadi padanya. Aku pun mengerti dan berusaha menghiburnya dengan kata-kataku yang payah seperti: wah, aku kira kau benar-benar sempurna, ternyata tidak ya? hahaha.. Dia sekilas terdiam tak percaya mendengar apa yang kukatakan lalu kemudian tertawa dan membelai rambutku. Aku pun bingung dan bertanya mengapa dia tertawa? Dia hanya tersenyum dan menanyakan namaku. Aku menjawab, "panggil saja aku Vin, lalu kau siapa?" tanyaku. "Wil, sebut saja aku wil". Aku melonjak kegirangan setelah mengetahui namanya, dia terheran dan bertanya ada apa denganku, aku hanya berkata: "aku menemukan pangeranku". Dia semakin tertawa. Aku pun ikut tertawa. Kami pun bertukar nomor telepon, hihihi.
Setelah aku kembali ke asrama, aku langsung tertidur, berharap aku akan dapat bertemu dengannya dalam mimpi, hehe..
Senyumanku di pagi hari dari saat aku baru membuka mata hingga selesai mengikuti pelajaran tak terhindarkan, ketiga teman sekamarku pun mulai penasaran dan mengerubutiku seolah aku ini gula dan mereka semutnya, haha. Akhirnya aku bercerita bahwa aku sepertinya menyukai seseorang, sontak saja mereka makin penasaran dan bertanya padaku siapa namanya, tapi aku yang masih malu dan bingung menjawab bahwa aku hanya melihatnya, tidak mengetahui siapa namanya dan apapun tentang dia. Seketika itu juga mereka terduduk lemas dan mengatakan betapa payahnya aku. Aku pun hanya mengeluh lemas dan bersikap lunglai seolah kecewa seperti yang mereka harapkan. Namun tentu saja, itu hanya akal-akalanku saja, sebab jika mereka mengetahui keadaannya yang asli, pasti mereka akan memaksaku untuk mengenalkan mereka padanya, dan aku tidak akan bisa mengelak namun juga malu, jadi lebih baik untuk dihindari bukan? Setidaknya untuk saat ini, tolong biarkan aku mengenal sosok dirinya lebih dalam melalui kedekatan kami berdua, ya hanya kami saja, tanpa kusadari hal itu justru mungkin yang dapat membuatku mengalami kepedihan tanpa aba-aba.
Aku memulai hariku dengan penuh senyuman karena saat pagi hari aku sudah mendapat pesan darinya: selamat pagi, berbahagialah :), begitu pula di saat siang sore hingga malam hari. Tentu saja aku membalas pesannya dengan mudah karena aku membalasnya dengan menggunakan headset, jadi ketiga temanku mengira aku hanya sedang mengganti lagu, seperti yang biasa aku lakukan setiap harinya. Kebiasaan yang baik bukan? Membuat orang sama sekali tidak curiga bahwa sesungguhnya aku telah menjalin sebuah komunikasi, hihi. Tapi, mereka mulai curiga saat melihat bahwa aku selalu tidak keberatan jika ditinggalkan pada hari minggu untuk berpacaran. Nelsy bertanya padaku apa aku baik-baik saja? Apa ada yang terjadi? Namun Vlouse dengan cepat menyelidiki aku dengan tatapan mendelik dan bertanya apa yang sedang kusembunyikan? Apa aku menyimpan sebuah rahasia yang tidak mereka ketahui? Untung saja Sha menenangkan mereka dengan berkata bahwa aku mungkin sudah terbiasa ditinggalkan dan memintaku untuk segera mencari pasangan, karena mereka merasa tidak enak jika terus meninggalkan aku dan membiarkanku seorang diri. Aku pun menatap ketiga sahabatku dengan senyuman dan berkata bahwa aku baik-baik saja. Nelsy, Vlouse dan Sha berkata akan serempak membawa seorang pangeran tampan untukku, jadi aku harus tenang saja. Aku pun tersenyum dan memeluk mereka seraya berkata tenang saja, aku sudah terbiasa, jangan terlalu khawatir (dalam hati aku meminta maaf pada mereka karena aku belum berani menceritakan apapun pada mereka, sebab pria itu jauh umurnya di atas kami, aku masih ragu, hehe)
Hari-hari berlalu dan aku pun menjadi semakin dekat dengan pangeranku (hahahaha..). Berhubung dia adalah seorang pelajar yang serius, kami hanya ketemuan atau telponan pada hari minggu, dimana semua teman-temanku sedang pergi menghabiskan waktu dengan pacar masing-masing, jadi aku tidak masuk dalam daftar "dicurigai" oleh mereka. Suatu ketika, karena aku terlalu baik dalam menyimpan rahasia hubunganku dengan Wil (yah, memang belum jelas sih, masih hanya sebatas teman tapi..lebih sedikit mungkin ;) hahaha), Nelsy, Vlouse dan Sha tiba-tiba memintaku untuk menghabiskan weekend bersama di rumah Vlouse. Aku yang memang tidak memakai jatah weekendku selama ini mau-mau saja, hanya ketika aku bertanya pada mereka mengapa tiba-tiba, mereka hanya tersenyum dan melirikku dengan manja..aku jadi bingung..tapi ya sudahlah, mengapa harus bingung, toh memang aku tidak ada kegiatan yang pasti untuk menghabiskan weekend (slain berkomunikasi dengan Wil maksudku, ;) ).
Sesampainya di rumah Vlouse, kami membereskan barang bawaan kami sebentar, dan lalu membeli beberapa snack untuk dimakan bersama. Kami pun bercengkerama satu sama lain dengan ceria sambil mengunyah snack favorit kami, dan sebuah kalimat dari Nelsy tiba-tiba membuatku tersedak. "Vin, ada seorang pemuda tampan yang menyukaimu!" Aku langsung terdiam dan tersedak saat itu dan meminta tolong diambilkan air mineral dalam botol yang telah kami beli tadi. Sha langsung memberikannya dan membantuku dengan menepuk pundakku agar baikan sambil tertawa, begitu juga dengan Vlouse dan Nelsy yang melihatku dengan tertawa. "Kau pasti kaget bukan? Namun kalau bisa memilih, aku pasti lebih menerima yang ini daripada Fridaltz", tambah Nelsy untuk menggodaku. Aku hanya tertawa dan mencoba mendengarkan tanpa memberikan tanggapan. "Ayolah Vin", seru Sha. "Apanya yang ayo?" tanyaku mengelak. "Dia memintaku untuk bisa kenalan besok", sahut Vlouse. "Apa? Jadi ini jebakan?" ungkapku dalam hati..namun aku tak mungkin menceritakan keadaanku yang sesungguhnya pada teman-temanku bahwa sebenarnya hatiku sudah kuberikan pada seorang pria diluar sana. Aku terlalu malu mengungkapkannya, sebab kami sampai saat ini juga memang belum bisa dikatakan berpacaran, hehe.. "Baiklah", kataku mengakhiri perbincangan tersebut. Sha seketika memelukku dan berkata: "Tiap minggu kita akan segera keluar bersama!" Aku hanya tersenyum menanggapi dan tidak bersemangat sama sekali.
Keesokan harinya, aku diajak oleh ketiga temanku untuk berkenalan, aku sengaja bangun lebih lama dari mereka, supaya tidak jadi, tapi mereka tetap dengan setia membangunkanku, bahkan Sha rela untuk memandikanku, hahhaa.. Aku hanya menguap dan berjalan ke kamar mandi dengan malas, dan masih terlihat mengantuk di depan teman-temanku yang sekarang sepertinya menyebalkan (karena menyuruh aku berkenalan, haha).
Setelah aku usai bersiap, mereka langsung menggandengku ke tempat yang dijadwalkan. Dan tampaklah dari kejauhan seorang yang sepertinya aku kenal..tapi saat kami berjalan lebih dekat, ternyata aku belum mengenalnya, tapi di wajahnya aku seperti melihat pangeranku..apa ini mimpi, atau karena aku mengharapkan itu Wil, atau karena aku hanya ingin melihat Wil, atau...tapi entah mengapa, aku tidak bisa memiliki ketertarikan dengan orang ini. Hmph..
Setelah mempertemukan kami, ketiga temanku sepakat melangkah mundur dan pergi meninggalkan kami berdua, hanya berdua saja.. dan menurutku itu tidak menyenangkan sama sekali. Huhh.. tapi baiklah, hanya kenalan saja toh? ;) Dia mulai memperkenalkan diri dan menjabat tanganku. "Namaku Filliam, panggil saja aku Fil", katanya sambil tersenyum. "Vinly, biasa dipanggil Vin", jawabku. Kami pun berbincang sejenak dan mencoba untuk berteman, tapi hatiku tidak bisa memasukkan orang lain lagi, hahaha..
Setelah sekian lama berbincang (sebenarnya hanya sebentar, itu pun dia bertanya dan aku menjawab tanpa balik bertanya), aku pun kembali ke kediaman Vlouse, dan tentu saja Nelsy Vlouse dan Sha sedang menantikan kepulanganku.
"Bagaimana tadi Vin?" seru Vlouse. "Iya, apa dia benar-benar tertarik padamu?" seru Nelsy. "Apa kau cocok dengannya?" timpal Sha. Aku hanya menjawab semua pertanyaan mereka dengan tersenyum malas sambil merebahkan diri di atas kasur. "Huahh, aku mengantuk" jawabku kemudian. Lalu serempak sahabat-sahabatku menarik kaki dan tanganku tanda tidak setuju dengan sikapku. "Ayolah Vin, ceritakan tentangnya, kami benar-benar penasaran dari tadi" pinta Nelsy. "Hm, tidak ada apapun, kami hanya berbincang biasa, dan dia meminta nomor hpku sesudahnya" jawabku asal. "Wow, berarti dia ada sinyal positif untuk lebih dekat denganmu", goda Vlouse. "Bagaimana perasaanmu sendiri Vin?" tanya Sha. "Aku biasa saja, aku tidak tertarik, maafkan aku teman-teman, pintaku dengan wajah memelas agar mereka tidak lagi membahas lelaki tadi. "Yah..mungkin kau belum mau merasakannya saja, coba saja dulu untuk berkomunikasi, mungkin kau akan memilih untuk bersikap berbeda" seru Sha. "Mungkin saja" sahutku cepat. "Baiklah kalau begitu, kita menonton saja malam ini untuk merayakan perkenalan Vinly dengan Filliam" usul Nelsy. Kami berempat pun segera bersiap (bersiap membeli dvd dan snack lalu menonton di kamar maksudnya, haha).
Setelah kami kembali ke sekolah, Filliam mencoba mengajakku bertemu. Dan ternyata dia satu sekolah denganku, hanya dia adalah kakak kelasku setahun di atasku. Hm, karena aku tidak mau dikira orang sombong, aku pun dengan berat hati mengiyakan ajakannya. Jam 4 sore di taman sekolah. Setelah pelajaran terakhir berakhir akupun dengan malas mengganti bajuku dan bersiap menemuinya. Sha mencoba menggodaku dan bertanya "mau kemana Vin? sepertinya ada yang punya kencan sekarang!" Otomatis Vlouse dan Nelsy pun menoleh dan mulai mengintrogasiku dengan seksama. "Pasti bertemu Filliam!! Dia mengajakmu ketemuan kan Vin?" Aku pun hanya tersenyum tipis sambil memandang ketiga temanku yang seperti mendapat lotre karena melihatku akan bertemu dengan seorang pria. Mereka pun sangat kegirangan melihatku. Mereka membantuku bersiap-siap dan menceramahiku dengan dengan berbagai tips pembicaraan yang akan membawaku kepada cinta (katanya). Huhh.. Baiklah baiklah, sahutku. Di tengah perjalanan, pikiranku kembali melayang, berpikir apa kabar Wil? Mengapa dia tidak ada kabarnya sudah beberapa hari. Ah, sudahlah.. Toh aku bukan pacarnya.. Tapi mengapa aku khawatir? Dan sekarang aku malah menemui orang lain? Hm, pikiranku campur aduk seperti es campur yang sudah hampir basi alias rumit dan kacau. Namun aku berusaha menepis segala pikiran negatif yang berkecamuk di dalam benakku. Sudahlah, tenang Vin, seruku seraya menenangkan batinku.
Tadaaa, sesampainya aku di taman aku pun melihat sesosok makhluk yang aku rindukan. Ya, aku yakin itu dia, namun entah mengapa aku hanya berdiri terpaku menatapnya dari kejauhan di bawah sebuah pohon rindang. Aku melihatnya sedang duduk bersama seorang perempuan cantik. Cantik sekali. Mereka sedang bercanda dan tertawa riang. Tubuhku bagai disambar petir. Tidak. Ini bukan kenyataan, mungkin ini mimpi buruk, seruku. Ayo bangun Vin, bangunnn!!! Tanpa terasa dadaku sesak, air mataku mulai turun berjatuhan seperti air hujan yang turun dengan derasnya. Aku terhanyut dalam kenangan indahku yang membuatku sangat mengharapkannya, namun ternyata inilah penyebab dia tak ada kabar. Ya, dia sudah bersama orang lain. Dan aku hanya seperti orang bodoh yang tidak dapat berdiri tegak menerima kenyataan, padahal aku pun tidak berhak marah. Kami belum jadian, dan mungkin tidak akan. Aku yang terlalu percaya diri. Aku pun berlari meninggalkan taman dan mencari tempat yang sunyi untuk melampiaskan kesedihanku yang tidak dapat kuceritakan kepada siapapun.. ya, karena dari awal aku tidak menceritakannya, mana mungkin aku menceritakan hanya bagian akhirnya kepada teman-temanku.. Aku berjalan menyusuri pepohonan yang rindang dan menemukan tempat sunyi dibalik pepohonan di pinggiran sungai kecil yang mengalir perlahan namun menyejukkan. Aku pun memutuskan untuk menghibur diriku disana. Setelah satu jam berlalu, tanpa sadar aku tertidur dalam tangisan. Dan saat aku membuka mata, disebelahku ada sosok yang lembut, yang ternyata sudah menopang kepalaku sedari tadi dan tersenyum ke wajahku. Sesaat aku terpana, dan bingung, apakah ini hanya mimpi atau siapa orang ini? Seingatku aku tidak bersama siapapun.. Aku mencoba berpikir ulang, dan menata kembali memoriku yang sepertinya mengambang karena kejadian di taman.. Dan aku pun terkesiap. Aku segera duduk dengan posisi yang benar dan meminta maaf karena aku malah tertidur di pundaknya. Dan aku pun harus meminta maaf karena aku melupakan janji bertemu begitu saja. Ya, dia adalah Filliam, pria yang seharusnya kutemui siang ini, namun karena pikiranku hanya terfokus pada Wil, lelaki yang bahkan tidak mengingatku, aku jadi melupakan pria ini. Namun Filliam tidak marah, dia bahkan tersenyum. Aku pun dengan malu mengucapkan maaf, dan bertanya bagaimana dia tau aku disini? Filliam dengan nada lembut hanya berkata " sebut saja aku Fil, dan maaf juga karena mengagetkanmu. Aku melihatmu berjalan kesini, dari taman itu. Aku pikir, kamu sedang dalam masalah, namun tidak perlu menceritakannya karena aku yakin kamu ingin privasi. Boleh kita mengatur ulang jadwal ketemuan? Aku melihat kamu sudah sangat lelah hari ini.. Aku tidak ingin membuatmu sulit" Ahhh.. pria ini baik sekali, namun aku yang masih belum memiliki rasa terhadapnya masih kikuk dan hanya sanggup membalas senyumannya. Kami pun pulang ke kampus seraya mengobrol ringan.
Sejak saat itu, aku pun mulai akrab dengan Filliam atau sebut saja Fil, seperti keinginannya dan tentu saja aku berusaha melupakan Wil. Fil sangatlah baik. Dia selalu ada untukku dan hal ini membantuku menghapus kenangan Wil, dan ketika teman-temanku sedang berpacaran dia pun sangat setia menemani hari-hariku dan mendengarkan celotehanku. Tanpa terasa hatiku bahagia bila ada disampingnya. Suatu sore, kami sedang berjalan bersama menyusuri pepohonan, lalu tiba-tiba ia berhenti dan menatap ke arahku sambil tersenyum. Aku yang sudah mulai terbiasa dengan senyumannya pun membalas dengan senyuman pula. Dia mulai berkata sesuatu, namun terlihat ragu. Aku pun tanpa basa-basi bertanya padanya "ada apa Fil? Seperti ada yang ingin kamu sembunyikan?" tanyaku spontan. "Hahaha, aku takut" serunya gugup. Aku yang penasaran pun mendelikkan mataku melihatnya dan menggodanya, maklum kami sudah seperti sahabat karib setelah akhirnya teman-temanku selalu hanya berduaan saja aku pun lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Fil. Fil mulai menatapku kembali dan mencoba berbicara "Vin, aku memiliki 2 berita, apakah kamu mau mendengar kedua-duanya?" Berita apa? sahutku bingung. "Hm, bagaimana ya, aku juga ragu akan memulainya darimana" sanggahnya. Katakanlah Fil, sahutku meyakinkan. "Begini Vin, aku sudah dari awal menyukaimu, saat aku melihatmu menangis dan menyendiri kala itu, aku rasa aku sudah benar-benar jatuh hati padamu. Namun aku tidak mau memaksamu, jadi aku berusaha menjadi sahabatmu dahulu, dan sejujurnya aku ingin sekali memintamu menjadi pasanganku, namun aku memiliki sesuatu yang tak terhindarkan.. Aku, akan pergi 2 bulan lagi ke New York bersama kedua orangtuaku karena ayahku dipindahtugaskan kesana dan aku tak kuasa menolak permintaan ibuku untuk tetap bersama mereka karena aku adalah anak tunggal.." Fil menyelesaikan kalimatnya dengan nada yang hampir tidak terdengar namun entah mengapa semua ini terdengar sangat jelas dan seperti tamparan bagiku.

Shock, tentu saja. Karena shocknya aku langsung terus berlari ke kamarku dan menahan rasa sakit di dadaku yang tak ada hentinya. Ini lebih sakit dari saat aku melihat Wil bersama wanita lain. Ini double pain, tidak! Triple pain. Aku menangis keras dalam kamarku, beruntung ketiga temanku tidak sedang berada di kamar, jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun. Namun saat mereka kembali pasti mereka akan mengintrogasiku, tidak bisa. Aku sedang tidak ingin diganggu, aku harus mencari tempat bersembunyi, ya bersembunyi dari kekalutan ini. Aku pun memutuskan untuk pergi ke gedung sekolah yang sudah sepi, sebab jika aku ke tempat biasa, pasti Fil akan menemukanku.
Aku pergi meninggalkan Wil di gedung itu, aku jelas tidak mau diganggu oleh siapapun saat ini. Mengapa dia harus kembali disaat seperti ini? Aku tidak mau jatuh untuk yang kedua kalinya. Aku berjalan cepat seraya menumpahkan emosiku yang sedang tidak beraturan dan aku terpeleset. Auchhh, sakit sekali! seruku dalam hati. Lalu datanglah Fil berlari ke arahku dan langsung mengangkatku dengan wajah yang penuh kekhawatiran dia langsung menggendongku. Aku minta diturunkan namun ia tidak menghiraukanku. "Vin, aku minta maaf jika aku mengejutkanmu. Inilah keraguanku, aku takut kamu tidak mencapai maksudku." kata Fil seraya menggendongku. Kumohon turunkan aku, pintaku. Lalu ia pun menurunkanku dan duduk disebelahku. "Aku minta maaf Vin, aku tidak seharusnya mengatakan hal ini kepadamu." katanya sambil menunduk. Aku pun menatap wajahnya dan berkata "justru jika kamu tidak mengatakannya, aku akan lebih sedih." Dia langsung menatapku kembali. "Fil, berapa lama kamu akan ada disana?" kataku. "Aku belum tahu Vin, tapi yang bisa kupastikan adalah, aku akan kembali untukmu, secepat yang aku bisa. Bersediakah kamu menjadi pasanganku yang setia dan menungguku?" sahutnya dengan mata nanar mengharapkan. "Janji akan selalu mengabariku? Komunikasi denganku?" seruku. "Pasti sayang, aku akan melakukannya" sahutnya. Seketika pipiku memerah, bukan apa-apa, aku sangat bahagia dengan panggilan baruku. Yah, sepele memang, tapi aku merasa bahagia sekarang, walaupun aku tahu itu hanya akan berlangsung selama 2 bulan ini, dan entah apa yang menanti kami di depan sana. Dia pun memelukku dan aku balas memeluknya.
Tanpa terasa sebulan sudah berlalu, dan aku sangat bahagia. Ya, aku kini merasakan yang disebut pacaran. Dan tentu saja Vlouse, Sha dan Nelsy pun sangat gembira melihat perkembanganku. Kini setiap malam kami sudah punya kekasih masing-masing, dan tentu saja teman-temanku tidak mengetahui perihal kepergian Fil ke New York. Aku pun seperti berusaha melupakan hal itu dan berusaha menciptakan sebanyak mungkin kenangan bersama Fil. Kami bermain, bercanda, berusaha membuat sebanyak mungkin agenda yang ingin kami lakukan sebagai pasangan. Membeli baju couple, memakai gelang yang sama, membeli peralatan yang sama dan banyak lagi hal seru yang kami lakukan. Ya, beginilah nasib yang akan menjadi cinta jarak jauh, kami berlaku seolah tidak ada hari esok. Hahaha..
Saat ini adalah hari buruk itu. Yah, secara teknis bagiku ini buruk, namun aku tidak ingin mengatakannya pada Fil, sebab ini permintaan orangtuanya. Aku berusaha menyembunyikan air mataku saat harus mengucapkan selamat tinggal padanya. Jujur saja, ini sulit. Aku berusaha tampil seceria mungkin melihatnya pergi, dan saat dia sudah masuk ke dalam jalur pemberangkatan menuju New York, air mataku tumpah seketika. Dan tanpa aku sadari, dia ternyata keluar lagi dan memelukku erat sambil menghapus air mataku.
"Vin, terima kasih atas cintamu selama ini, aku tahu kamu berusaha menyembunyikan kesedihanmu selama ini agar aku tidak terbeban, tapi justru aku sangat tidak tenang jadinya. Dan melihatmu menangis saat ini membuatku tenang," ucapnya perlahan. Tangisanku membuatmu tenang? sahutku bingung. "Ya, tentu saja" jawabnya sambil tersenyum. Mengapa? tanyaku. "Karena dengan begitu aku tahu betapa dalamnya cinta kita". Aku pun tersipu malu, namun dia melanjutkan kata-katanya kembali. "Tunggu aku, aku akan membuktikan bahwa cinta kita abadi, berdoalah agar kita dapat dipersatukan oleh Tuhan secepatnya ya" sahutnya meyakinkanku. Baiklah, jawabku singkat.
6 bulan sudah dia di New York. Aku dengan setia menunggu kabar darinya. Hari ini adalah hari terakhir untuk UAN. Setelah ini kami akan lulus, dan aku berencana untuk menjenguknya ke New York. Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku bahkan berencana untuk melanjutkan kuliah disana, yang tentu saja teman-temanku menentang hal tersebut karena tidak ingin berpisah denganku. Aku minta maaf namun aku ingin mengejar impian dan cintaku. Mereka pun mengalah setelah aku menjanjikan untuk pulang setiap semester ke Indonesia.
bersambung
Selasa, 18 Juni 2013
diary 18 juni 2013
what?
salah lagi??
selalu aja gini, selalu saya yang dipersalahkan..
hmm..
di rumah, sekolah, kerjaan,
enaknya membuat orang merasa bersalah..
cukup sekian dan trima kasih,
mulai saat ini dan seterusnya,
saya akan berubah, hahahha..
walaupun harus menerjang banyak keluhan dan amarah,
itu akan lebih baik daripada diam membisu tanpa perlawanan. :D
bersiaplah.. hahahah
salah lagi??
selalu aja gini, selalu saya yang dipersalahkan..
hmm..
di rumah, sekolah, kerjaan,
enaknya membuat orang merasa bersalah..
cukup sekian dan trima kasih,
mulai saat ini dan seterusnya,
saya akan berubah, hahahha..
walaupun harus menerjang banyak keluhan dan amarah,
itu akan lebih baik daripada diam membisu tanpa perlawanan. :D
bersiaplah.. hahahah
lebih baik untuk dibuang
ketika saat itu tiba
aku hanya dapat terpaku
memandang nyata tanpa arah
terjatuh dan membisu
ada apa sebenarnya
mengapa ini lebih pahit dari mati
walau kali ini bukan yang pertama
tapi inilah saat benar-benar pergi
jadi apa yang harus ditunggu
walau hanya melepaskan tangan yang berpura-pura memegang
bagai padang tanpa rumput
dan ternganga menatap hampa
pergilah dan lenyap
karena saat bunga layu dipaksa mekar
hanya akan merusak tanah
lebih baik untuk dibuang
norma
2013
aku hanya dapat terpaku
memandang nyata tanpa arah
terjatuh dan membisu
ada apa sebenarnya
walau kali ini bukan yang pertama
tapi inilah saat benar-benar pergi
jadi apa yang harus ditunggu
walau hanya melepaskan tangan yang berpura-pura memegang
bagai padang tanpa rumput
dan ternganga menatap hampa
pergilah dan lenyap
karena saat bunga layu dipaksa mekar
hanya akan merusak tanah
lebih baik untuk dibuang
norma
2013
cahaya yang bersembunyi
dimana ini
mengapa kedua mata bak tak bernyawa
hanya desir angin yang menerpa
dan terus menggerogoti hati
kelam
kosong tak berjiwa
layaknya roh tanpa tujuan
yang berkelana dalam dunia nyata
sepi
hening
seolah semua menepi di ujungnya harapan
tiada pemberhentian awal
sang cahaya harapan yang membantu mata
mata hati yang terkapar
telah pergi bersembunyi
bersatu dengan sunyi
norma
2013
mengapa kedua mata bak tak bernyawa
hanya desir angin yang menerpa
dan terus menggerogoti hati
kelam
kosong tak berjiwa
layaknya roh tanpa tujuan
yang berkelana dalam dunia nyata
sepi
hening
seolah semua menepi di ujungnya harapan
tiada pemberhentian awal
sang cahaya harapan yang membantu mata
mata hati yang terkapar
telah pergi bersembunyi
bersatu dengan sunyi
norma
2013
Langganan:
Postingan (Atom)


